dr. Ghazkhan menyampaikan edukasi kesehatan kepada pasien dan pengunjung di Poliklinik Rawat Jalan RSU Cut Meutia

RSU Cut Meutia Menggelar Edukasi Pencegahan TBC

Langsa — Wujud komitmen meningkatkan kesadaran serta pengetahuan masyarakat pentingnya pencegahan penyakit menular, RSU Cut Meutia Langsa PT  Cut Meutia Medika Nusantara (PT CMN) kembali menggelar edukasi kesehatan langsung kepada pasien dan pengunjung di Poliklinik Rawat Jalan, Senin (02/02/2026).

Edukasi kesehatan ini disampaikan oleh dr. Ghaskhan Shah Ghanar dengan materi mengenai penyakit  Tuberkulosis (TBC). Dalam paparannya, dr. Ghaskhan menjelaskan terkait pengertian TBC, gejala yang menyertainya, penyebab, cara penularan, hingga langkah-langkah pencegahan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini bukan penyakit keturunan dan dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia maupun jenis kelamin.

Secara medis, TBC terbagi menjadi dua jenis. Pertama, TBC paru yang menyerang organ paru-paru. Kedua, TBC ekstra paru, yakni infeksi yang terjadi di luar paru-paru seperti kelenjar getah bening, tulang, dan organ tubuh lainnya.

Penularan TBC terjadi melalui udara. Bakteri TBC menyebar lewat percikan droplet yang keluar saat penderita berbicara, batuk, atau bersin. Saat berbicara, seorang pasien TBC dapat menyebarkan sekitar 210 bakteri. Ketika batuk, jumlah bakteri yang tersebar dapat mencapai 3.500, sementara bersin berpotensi melepaskan 4.500 hingga satu juta bakteri ke udara. Kondisi ini membuat TBC sangat mudah menular, terutama di lingkungan tertutup dan padat penduduk.

Gejala TBC perlu diwaspadai sejak dini. Beberapa tanda umum yang sering muncul antara lain batuk berdahak lebih dari dua minggu, batuk berdarah, sesak napas, keringat berlebih pada malam hari, serta penurunan berat badan secara drastis tanpa sebab yang jelas.

Kelompok yang berisiko tinggi tertular TBC meliputi orang yang melakukan kontak erat dengan pasien TBC, penderita HIV, perokok, pasien diabetes melitus (DM), serta bayi, anak-anak, dan lansia yang tinggal serumah atau sering berinteraksi dengan penderita TBC. Selain itu, masyarakat yang tinggal di lingkungan padat penduduk juga memiliki risiko lebih tinggi.

Meski berbahaya, TBC bukan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Pengobatan TBC harus dijalani minimal selama enam bulan dan tidak boleh terputus agar bakteri benar-benar mati dan tidak menimbulkan resistensi obat. Pemerintah juga memastikan bahwa obat TBC dapat diperoleh secara gratis di fasilitas pelayanan kesehatan.

Upaya pencegahan TBC dapat dilakukan melalui berbagai langkah, di antaranya pemberian vaksin BCG sejak dini, pemeriksaan kontak erat dengan pasien TBC, berhenti merokok, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta membiasakan cahaya matahari masuk ke dalam rumah dan menghindari lingkungan yang lembap.

Pasien dan masyarakat diimbau untuk tidak takut memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala yang mengarah pada TBC. Deteksi dini dan pengobatan yang tuntas menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan, demi terwujudnya Indonesia Bebas TBC 2050.

Penulis : yos   Tag : PT CMN, RSU CUT MEUTIA, KLINIK CUT MEUTIA, KOTA LANGSA, ACEH
VISITOR : 3

Follow Us